Lambang Desa
Pemerintah Desa Desa Gersik
Pemerintahan calendar_today 17 Agt 2026 visibility 6 dibaca

Karang Taruna Desa Gersik Kembangkan Bioflok 4.0 Berbasis IoT dan Produk Olahan Lele

person

Pemerintah Desa

Pemerintah Desa Gersik

Karang Taruna Desa Gersik Kembangkan Bioflok 4.0 Berbasis IoT dan Produk Olahan Lele

Karang Taruna Desa Gersik, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan, terlibat dalam program pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi melalui penerapan Bioflok 4.0 berbasis Internet of Things (IoT). Program yang berlangsung sejak Juni hingga Desember 2025 tersebut dilaksanakan bersama tim dosen dan mahasiswa Universitas Kuningan (UNIKU) melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat yang didukung DPPM Kemdiktisaintek RI Tahun 2025.

Program melibatkan 30 anggota Karang Taruna Desa Gersik sebagai peserta dan mitra utama. Kegiatan diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan budidaya ikan lele, tetapi juga mengembangkan keterampilan pemuda dalam pemanfaatan teknologi, pengolahan hasil perikanan, pemasaran digital, serta pengelolaan limbah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Melalui penerapan Bioflok 4.0, peserta diperkenalkan pada penggunaan sensor berbasis IoT untuk memantau kondisi kolam secara waktu nyata. Sistem tersebut digunakan untuk membantu memonitor beberapa parameter penting dalam budidaya ikan, antara lain suhu air, tingkat keasaman atau pH, serta kadar oksigen terlarut. Informasi dari sensor dapat dipantau melalui perangkat digital sehingga kondisi kolam dapat diawasi dengan lebih baik.

Penggunaan teknologi tersebut diharapkan membantu anggota Karang Taruna menjaga kualitas air dan mengurangi risiko gangguan dalam proses budidaya. Hasil pelaksanaan program yang dipublikasikan dalam Journal of Innovation and Sustainable Empowerment Universitas Kuningan menunjukkan adanya peningkatan keterampilan teknis dan motivasi pemuda serta produktivitas kolam yang lebih stabil setelah proses pendampingan.

Tidak hanya berfokus pada budidaya lele, program ini juga mendorong diversifikasi produk hasil perikanan. Anggota Karang Taruna mendapatkan pelatihan pengolahan ikan lele menjadi produk abon lele. Pengembangan produk olahan tersebut menjadi salah satu upaya memberikan nilai tambah terhadap hasil budidaya sehingga ikan yang dihasilkan tidak hanya dipasarkan dalam bentuk segar.

Peserta juga memperoleh pendampingan mengenai pemasaran digital agar produk olahan dapat diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas. Berdasarkan hasil program, produk olahan mulai dipasarkan melalui media digital. Langkah ini membuka peluang bagi pemuda desa untuk mengembangkan kegiatan budidaya menjadi usaha produktif yang menggabungkan sektor perikanan, pengolahan pangan, dan pemasaran berbasis teknologi.

Aspek lingkungan turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Limbah dari kolam bioflok yang sebelumnya belum dimanfaatkan kemudian diolah menjadi pupuk organik cair. Proses pengolahan dilakukan menggunakan bahan pendukung seperti EM4 dan molase, kemudian difermentasi selama sekitar 14 hari. Hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk mendukung kegiatan pertanian.

Dengan pendekatan tersebut, kegiatan budidaya tidak berhenti pada produksi ikan saja. Limbah yang dihasilkan dapat kembali dimanfaatkan sehingga memiliki nilai guna dan berpotensi memberikan nilai ekonomi tambahan. Model ini sekaligus memperkenalkan kepada generasi muda Desa Gersik mengenai pentingnya pengelolaan usaha yang memperhatikan aspek produktivitas dan keberlanjutan lingkungan.

Program dilaksanakan secara partisipatif melalui tahapan sosialisasi, pelatihan, praktik penerapan teknologi, pendampingan, hingga evaluasi. Karang Taruna terlibat dalam pengelolaan kolam, penggunaan sensor IoT, pembuatan abon lele, pengolahan limbah menjadi pupuk organik cair, serta pengembangan pemasaran produk.

Dalam pelaksanaannya, program juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterampilan awal peserta dalam menggunakan teknologi IoT, keterbatasan fasilitas pengemasan produk abon, dan kestabilan jaringan internet untuk pemantauan kolam. Pendampingan secara bertahap dilakukan untuk membantu peserta menyesuaikan diri dengan teknologi dan proses produksi yang dikembangkan.

Hasil kegiatan menunjukkan bahwa program memberikan dampak pada beberapa aspek. Dari sisi ekonomi, pengolahan lele dan pupuk organik membuka peluang pengembangan produk baru. Dari sisi sosial, keterlibatan pemuda dalam kegiatan produktif meningkat. Sementara dari sisi lingkungan, limbah kolam mulai dimanfaatkan menjadi produk yang dapat digunakan kembali.

Program Bioflok 4.0 di Desa Gersik menjadi salah satu bentuk pemanfaatan teknologi dalam pemberdayaan generasi muda desa. Melalui kolaborasi antara Karang Taruna dan perguruan tinggi, pemuda tidak hanya memperoleh kemampuan dalam budidaya perikanan, tetapi juga diperkenalkan pada teknologi digital, pengembangan produk, kewirausahaan, dan pengelolaan lingkungan.

Pengembangan kegiatan tersebut diharapkan dapat terus dilanjutkan melalui penguatan kelompok usaha, peningkatan kualitas dan legalitas produk olahan, serta perluasan pemasaran. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, kegiatan budidaya lele berbasis Bioflok 4.0 berpotensi menjadi salah satu usaha produktif yang mendukung kemandirian pemuda serta pengembangan ekonomi lokal Desa Gersik.

Bagikan Artikel Ini: